BANDUNG,bipol.co – Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Jabar berjanji akan mencarikan solusi bagi para petani garam di Jawa Barat agar tak meminjam uang kepada tengkulak. Sehingga, harga garam di pasaran, khususnya di Jawa Barat tidak lagi dimainkan tengkulak.
Hal tersebut disampaikan Kepala Diskanlut Jabar, Jafar Ismail menanggapi anjloknya harga garam di Jawa Barat. Disinyalir, anjloknya harga garam karena ulah para tengkulak memainkan dan membeli garam di bawah harga pasaran yang telah ditentukan.
“Mungkin dengan pola pembentukan koperasi yang sehat. Sehingga ketika petani butuh uang bisa pinjam melalui koperasi. Itu salah satu solusi yang akan kami tawarkan pada petani garam,” ujar Jafar di Bandung, Kamis (11/7/2019).
Jafar menyatakan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Desperindag) Jabar untuk mengatur pola pemasaran garam. Dengan begitu, para petani diharapkan tidak lagi menjual garamnya kepada tengkulak.
“Memang untuk jalur penjualan itu ranah Dinas Perdagangan, kami hanya berwenang mengawasi di tingkat petani,” imbuhnya.
Diungkapkan Jafar, produksi garam di Jawa Barat sendiri hingga saat ini terbilang melimpah. Diskanlut Jabar mencatat, stok garam di Jawa Barat tahun 2018 sebanyak 37 ton dan masih tersimpan di gudang karena belum terjual.
“Sedangkan produksi hingga Juli ini sekitar 2.000 ton dan akan terus bertambah karena memasuki puncak panen di bulan Agustus dan September nanti,” tuturnya.
Berdasarkan penelusuran Diskanlut Jabar, industri produsen garam selalu membeli dengan harga standar, yakni Rp 1.500 per kilogram. Namun, para petani menjual garam kepada tengkulak dengan harga jauh dari standar, mulai dari Rp 300-700 per kilogram sesuai kualitas.**
Reporter: Iman Mulyono
Editor: Ude D Gunadi



















