Ditulis Oleh: Bukhori (Redaktur bipol.co)
BIPOL.CO – Suara keresahan rakyat semakin nyaring terdengar. Kekecewaan yang menumpuk selama bertahun-tahun kini meledak dalam bentuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Rakyat merasa sudah tidak lagi dilindungi oleh undang-undang maupun peraturan, yang seharusnya hadir sebagai payung keadilan, namun justru dianggap lebih berpihak kepada kepentingan segelintir elite.
Beban pajak terus diperas dari rakyat, sementara praktik korupsi masih merajalela tanpa rasa malu. Seolah sudah menjadi pemandangan biasa, pejabat publik memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri. Penegak hukum pun dianggap tumpul, hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Ironisnya, lembaga perwakilan rakyat yang diharapkan menjadi benteng terakhir aspirasi masyarakat kecil, justru terang-terangan mengkhianati rakyatnya sendiri. DPRD yang seharusnya menyuarakan jeritan rakyat, lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi dan kelompok.
Di lapangan, kondisi semakin berat. Perekonomian melambat, pengangguran meningkat, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di berbagai sektor. Usaha mikro, kecil, dan menengah—yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian rakyat—mulai berguguran satu per satu.
Sayangnya, di tengah kesulitan ini, pemerintah bukannya memberi solusi, malah menambah beban dengan menaikkan berbagai jenis pajak. Kebijakan yang justru kian mempersempit ruang gerak rakyat untuk bertahan hidup.
Situasi ini membuat banyak pihak menilai bahwa negara sedang berada di ambang kehancuran. Investor asing satu per satu hengkang, ratusan triliun modal asing telah keluar, pasar saham tertekan, nilai rupiah merosot. Jika tren ini berlanjut, tahun depan mencari pekerjaan akan semakin sulit.
Puncaknya, gelombang demo besar-besaran pecah di berbagai wilayah Indonesia. Jakarta, Bandung, Makassar, Tegal, Solo, Yogyakarta, Surabaya, hingga Semarang dipenuhi lautan massa yang menuntut perubahan. Amarah rakyat yang sudah lama terpendam tumpah ruah. Sejumlah gedung DPRD dilaporkan dibakar massa. Bahkan, rumah milik beberapa politisi anggota DPR RI diserang dan ikut dibakar.
Rakyat sudah lelah, rakyat sudah muak. Mereka merasa tidak lagi punya pilihan selain melawan, karena suara yang selama ini mereka titipkan melalui wakil rakyat ternyata justru dikhianati.
Inilah yang menjadi alasan rakyat turun ke jalan. Demo bukan sekadar aksi massa, melainkan jeritan hati yang menuntut perubahan. Sebab rakyat tidak ingin negeri ini terus terjerumus dalam krisis tanpa ujung.**)



















