Malam Pusaka Gunung Padang: Antara Doa, Emas, dan Bisikan Leluhur

- Editor

Rabu, 29 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kanjeng Yoga, Pundjung Manoe, Cahaya Adi Wibowo (Dok AI Cahaya)

Ilustrasi Kanjeng Yoga, Pundjung Manoe, Cahaya Adi Wibowo (Dok AI Cahaya)

Laporan: Anrico Pasaribu

BIPOL.CO – Di balik kabut dan dinginnya malam, Gunung Padang kembali menyingkap misterinya. Tidak sekadar situs megalitikum, tempat ini dipercaya menjadi gerbang antara alam nyata dan dimensi leluhur. Beberapa bulan lalu, Cahaya Adi Wibowo, seorang pria dengan mata batin tajam, melihat dalam pandangan spiritualnya sebuah pusaka berkilau, melayang-layang di langit Gunung Padang, seolah menunggu seseorang yang disebut “Kanjeng Yoga.”

Pesan itu bukan isyarat biasa. Kanjeng Yoga, yang dikenal memiliki kepekaan spiritual, kemudian mencari waktu yang dirasa cocok. Ia memilih malam Senin, 27 Oktober, malam yang disebut-sebut dalam penanggalan Jawa sebagai waktu terbukanya tirai gaib. Bersama dua sahabatnya, Pundjung Manoe dan Cahaya Adi Wibowo, mereka bersepakat, perjalanan ini hanya untuk bertiga, tanpa seorang pun boleh ikut.

Menjelang malam, langit Gunung Padang digelayuti awan tebal. Hujan turun perlahan seolah menyambut kedatangan mereka. Di pelataran situs yang sepi tanpa pengunjung, hanya gemericik air dan hembusan angin malam yang menemani. “Seakan alam menutup pintu bagi siapa pun selain kami,” bisik Pundjung Manoe pelan, usai medaraskan doa rosario.

Sekitar pukul 21.45, hujan tiba-tiba mereda. Dengan langkah perlahan, mereka menapaki tangga utama menuju teras pertama tanpa alas kaki. Sebelumnya, ketiganya menjalani ritual penyucian: membasuh tangan, kaki, dan wajah, membasahi rambut, lalu meneguk air suci dari mata air di sisi tangga, sumber yang dipercaya menyimpan daya penjaga situs. Di teras satu, tiga batang hio aroma mawar dinyalakan. Asapnya menari lembut di udara, membawa doa dan permohonan izin kepada Yang Maha Kuasa serta para leluhur yang diyakini hadir di sekeliling mereka.

Perjalanan berlanjut menuju teras kelima, tempat paling tinggi dan sakral di Gunung Padang. Di sana, mereka mengganti busana, Kanjeng Yoga mengenakan beskap putih berhias tujuh kancing bergambar garuda, lambang kekuatan dan penjaga negeri. Pundjung Manoe memakai beskap biru, sementara Cahaya Adi mengenakan beskap gelap bermotif kembang yang seolah hidup di bawah cahaya lilin.

Tiga lilin dinyalakan, tiga hio kembali mengepulkan aroma mawar. Hujan kembali turun, namun anehnya tak membasahi tubuh mereka. “Dalam mata batin, hujan itu berubah menjadi butiran emas,” ujar Cahaya Adi lirih. Di tengah keheningan itu, cahaya samar muncul di kejauhan, seperti bayangan sosok berjubah putih yang perlahan mendekat.

“Ketika kami berdoa, seorang resi muncul dan menyerahkan pedang emas kepada Kanjeng Yoga,” tutur Cahaya Adi. Tangannya sendiri terasa hangat, dan ketika ia menunduk, tampak sebilah keris di genggamannya. “Saya tidak tahu dari mana datangnya,” tambahnya dengan suara bergetar.

Kanjeng Yoga kemudian menengadahkan tangan, memanjatkan doa bagi bangsa dan negara. Ia memohon agar tanah air tetap utuh, dijauhkan dari perpecahan dan keserakahan. Hembusan angin di puncak terasa berubah lembut, seolah turut mengamini.

Tepat pukul 23.00, mereka turun perlahan. Di pelataran parkir, suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara serangga malam dan sisa rintik hujan di dedaunan. Tanpa menoleh lagi, mereka meninggalkan Gunung Padang, membawa kisah yang tak akan terlupa, malam ketika pusaka emas berpindah tangan, hujan menjadi emas, dan para leluhur menampakkan diri di antara kabut misteri.

Pedang emas yang dilihat Cahaya Adi dalam pandangan batinnya tak pernah tampak di dunia nyata. Namun kehadirannya terasa. Dalam setiap langkah, Kanjeng Yoga merasakan beban sekaligus kekuatan yang sulit dijelaskan, seperti ada arus energi tua yang mengalir pelan, menuntunnya untuk berhati-hati dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

Bagi ketiganya, Gunung Padang bukan lagi sekadar situs purba. Ia telah menjadi cermin bagi perjalanan jiwa, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, dan dengan rahasia alam yang tidak membutuhkan pembuktian.

“Pusaka bukanlah benda. Ia adalah kesadaran. Dan kesadaran adalah cahaya yang tak pernah padam,” pungkas Punjung Manoe.**

Berita Terkait

Era Kebangkitan Spiritualitas Nusantara dan Gunung Padang sebagai Simbol Memori Kuno
Jumling di Masjid Asy-syifa, Bupati Bandung Tegaskan Program Insentif Guru Ngaji Tetap Berjalan
Bupati Lucky Hakim: MTQ Momentum Menjadikan Al.Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
Cimahi Gelar Cimahi Creative Day 2025, Dorong Ekosistem Ekonomi Kreatif Makin Berkembang
Peringati Sumpah Pemuda, Pemkab Bandung Putar Film “Bedas Manunggal Sajati” Inspirasi untuk Pemuda
Ribuan Guru Ngaji Memadati Dome Bale Rame Hadiri Silaturahmi Akbar
Peringati HSN ke-10, Ini Bentuk Perhatian Bupati Bandung Terhadap Santri dan Pesantren
LBH MUI Dibentuk, Bupati Bandung Soroti Program Sertifikasi Masjid dan Pesantren
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 22 November 2025 - 16:06 WIB

Era Kebangkitan Spiritualitas Nusantara dan Gunung Padang sebagai Simbol Memori Kuno

Jumat, 21 November 2025 - 18:15 WIB

Jumling di Masjid Asy-syifa, Bupati Bandung Tegaskan Program Insentif Guru Ngaji Tetap Berjalan

Kamis, 13 November 2025 - 13:10 WIB

Bupati Lucky Hakim: MTQ Momentum Menjadikan Al.Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Senin, 3 November 2025 - 16:32 WIB

Cimahi Gelar Cimahi Creative Day 2025, Dorong Ekosistem Ekonomi Kreatif Makin Berkembang

Rabu, 29 Oktober 2025 - 11:56 WIB

Malam Pusaka Gunung Padang: Antara Doa, Emas, dan Bisikan Leluhur

Berita Terbaru