Jumat, 18 September, 2020
">

Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono yang Abadi

JAKARTA.bipol.co – Sastrawan Tanah Air, Sapardi Djoko Damono menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-80 tahun pada Minggu pagi (19/7).

Meski raganya tak lagi ada, karya-karyanya yang romantis dan meneduhkan hati dapat selalu dikenang sepanjang waktu oleh banyak generasi. Berikut sejumlah puisi romantis nan manis karya mendiang Sapardi.

1. “Hujan Bulan Juni”

BACA LAINNYA

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu.

“Hujan Bulan Juni” merupakan novel karya Sapardi yang berisikan kumpulan puisi, sajak, dan cerita, terbit pada tahun 1994.
“Hujan Bulan Juni” pernah diadaptasi menjadi film pada tahun 2017 dengan judul yang sama, diperankan Adipati Dolken dan Velove Vexia.

2. “Aku Ingin”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

“Aku Ingin” merupakan salah satu puisi yang ada di dalam buku “Hujan Bulan Juni”. Kata-katanya yang sederhana terasa romantis dan dekat dengan pembacanya.

3. “Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta”

Mencintai angin harus menjadi siut…
Mencintai air harus menjadi ricik…
Mencintai gunung harus menjadi terjal…
Mencintai api harus menjadi jilat…
Mencintai cakrawala harus menebas jarak…

Mencintaimu harus menjadi aku.

“Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta” ada dalam buku karya Sapardi berjudul “Melipat Jarak”, yang diterbitkan pada tahun 2015. Buku ini mencakup karya tulis sajak Sapardi sejak tahun 1995 sampai 2015.

4. “Pada Suatu Hari Nanti”

Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

Puisi ini hadir di “Hujan Bulan Juni”, dan semakin menjadikan buku tersebut sebagai salah satu karya fenomenal dari “Eyang” Sapardi.

5. “Yang Fana Adalah Waktu”

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

Puisi ini hadir di buku kumpulan puisi “Perahu Kertas” yang terbit pada 1983. Bila dibaca saat ini, ketika sosoknya telah tiada, agaknya semakin membuat pembaca merasa bahwa Sapardi akan selalu hidup lewat karyanya.

Selamat jalan, Eyang Sapardi.
Karya dan cinta yang kau tuangkan lewat tulisan akan terus abadi.        (net)


Editor    Deden .GP
Next Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *