BIPOL.CO, KOTA CIMAHI.- Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi berencana menjadikan eks tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah sebagai kawasan konservasi adat, budaya dan lingkungan. Rencana itu akan coba direalisasikan tahun 2026.
“Kita canangkan bahwa kawasan Cirendeu ini menjadi kawasan konservasi adat, budaya dan lingkungan. Ada kawasan konservasinya, ada kawasan wisatanya, ada kawasan pertaniannya,” kata Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira.
Pihaknya, kata dia, akan membuat feasibility study (FS) hingga detail engineering design (DED) mengenai kawasan konservasi terpadu di Cireundeu itu. Pihaknya akan menggandeng budayawan dan tokoh masyarakat Kampung Adat Cirenudeu.
“Tentu kita harus bikin dulu studi kelayakannya atau FS-nya, DED-nya dan lain sebagainya. Kita harap mudah-mudahan tahun depan kita sudah mulai bisa bangun disini,” ujar dia.
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
“Alhamdulillah Kemarin clear dengan Kota Bandung 45 hektare lahan Kota Bandung yang ada di sini siap untuk dikerjasamakan. Jadi skalanya tentu ini adalah skala besar terus yang kedua pembedanya adalah kalau di sini sudah ada embrionya, tadi saya sampaikan sudah ada Desa Adat Cireundeu tinggal kita kembangkan,” jelas Adhitia.
Adhitia mengungkapkan, Kota Cimahi telah memiliki modal utama untuk menjadikan area eks TPA Lewuigajah sebagai area konservasi adat dan budaya karena terdapat Kampung Adat Cireundeu yang telah resmi menjadi bagian Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA).
“Sudah ada tanaman keunggulannya yaitu singkong, tinggal kita kembangkan. Bambu juga akan jadi varietas utama yang akan kita tanam di Cireundeu ini. Saya optimis kami optimis di Cireundeu ini jauh lebih berhasil ke depan,” kata dia.
Selain itu, Pemkot Cimahi juga akan membangun semacam monumen peringatan di eks TPA Leuwigajah. Seperti diketahui, gunungan sampah di TPA Leuwigajah itu meledak dan longsor pada 21 Februari 2005. Peristiwa itu menewaskan ratusan warga.
“Insya Allah ada monumen, tapi monumen ini jangan hanya sekedar menjadi monumen dan kesannya angker,” ucap Adhitia.**