Informasi BIN Bentuk Pasukan Khusus Tidak Benar

- Editor

Minggu, 13 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPR Evita Nursanty. (net)

Anggota DPR Evita Nursanty. (net)

JAKARTA.bipol.co – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dr Evita Nursanty meyakini bahwa informasi yang menyebut Badan Intelijen Negara (BIN) membentuk pasukan khusus adalah informasi yang tidak benar.

Cuplikan video kegiatan di BIN pada 10 September 2020 yang videonya diunggah oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo di akun Instagram pribadinya, kata Evita, adalah demo keterampilan dari para agen atau siswa Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), bukan pasukan khusus.

“Enggak lah, saya yakin 100 persen, tidak ada pasukan khusus. Itu salah pengertian saja. Mereka (yang tampil mendemokan keahlian itu) adalah agen atau siswa STIN yang sedang mendemonstrasikan keterampilan mereka sesuai tugas mereka,” kata Evita di Jakarta, Sabtu (12/9)

Menurut anggota VI DPR RI yang sebelumnya 10 tahun duduk sebagai anggota DPR di Komisi I DPR yang bermitra dengan BIN tersebut, siswa STIN memang dilatih dengan sangat terampil, misalnya ahli pencak silat, karate, ahli siber, dan “soft skill” lainnya yang diperlukan kelak ketika mereka terjun di lapangan.

“Jadi, keahlian itulah yang dipertunjukkan sebagai bagian dari ‘ceremony’, bukan membuat pasukan khusus. Kita memang membutuhkan siswa STIN yang terampil karena mereka sumber utama SDM BIN sesuai UU Intelijen. Coba lihat juga di film-film itu, bagaimana anggota CIA, FBI atau badan intelijen lain punya keterampilan khusus ketika mereka bertugas misalnya dalam penyusupan ke komunitas apapun,” sambung Evita.

Hal itu sesuai UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara yang menyebut bahwa STIN sebagai sumber utama SDM untuk BIN sehingga STIN terus mengembangkan pendidikan untuk mencapai tujuan lulusan yang berdaya saing internasional dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara BIN, kata dia, terus mendorong pengembangan profesi atau kemampuan profesional personel intelijen melalui pendidikan, pelatihan dan penugasan.

Perlunya rekrutmen dan pengembangan profesi dan kemampuan profesional personel intelijen yang tangguh dan memiliki keahlian khusus itu, lanjut dia, sejalan dengan perubahan, perkembangan situasi, dan kondisi lingkungan strategis yang memang perlu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bersifat kompleks serta memiliki spektrum yang sangat luas.

Karena itu, Evita malah berharap sistem rekrutmen dan sistem pelatihan keterampilan khusus tersebut bisa diterapkan di kampus lain yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan negara.

“Justru kami senang BIN punya siswa dilatih keterampilan khusus, soft skill. Sistem ini bagus jika diterapkan di institusi pendidikan lain, seperti Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang sudah bertransformasi menjadi Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Universitas Pertahanan,” katanya.

Evita juga menyambut sangat baik pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, kemudian Intelijen Cyber, S2 Intelijen Ekonomi maupun S3 Ilmu Intelijen Strategis.

“Itu semua sangat bagus sebagai antisipasi terhadap ancaman pada masa depan, dan bentuk pembaruan dan modernisasi untuk mewujudkan STIM sebagai kampus bertaraf internasional, memberikan kemampuan menghadapi tantangan dan ancaman NKRI,” pungkas Evita. (net)

Editor Deden .GP

Berita Terkait

Ganjar Pranowo Dorong Hak Angket Dugaan Kecurangan Pilpres 2024 di DPR, Jokowi: Itu Hak Demokrasi
Jokowi Imbau Jangan Teriak Kecurangan Bawa ke Bawaslu dan MK, Begini Reaksi BW …
Pernyataan Menohok TPN Ganjar-Mahfud: Tidak Perlu Pemilu Kalau Pelaksanaannya Semacam Ini
Di TPS Tangsel Anies Menang, Suara Prabowo dari 86 Ditulis Jadi 866
Pj Gubernur Jabar Antri Gunakan Hak Pilih di TPS 15: Warga Jabar Pemilih yang Cerdas
Bey Machmudin Tinjau Pencoblosan ke Sejumlah TPS di Kota Bandung
Pj. Wali Kota Cimahi dan Forkopimda Monitoring Persiapan Pemilu 2024, Pj Gubernur Jabar di TPS 29 Baros
Timnas Anies-Muhaimin Sinyalir Ada Potensi Kecurangan Pemilu Melalui Penyalahgunaan Sistem IT KPU
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Februari 2024 - 21:53 WIB

Ganjar Pranowo Dorong Hak Angket Dugaan Kecurangan Pilpres 2024 di DPR, Jokowi: Itu Hak Demokrasi

Sabtu, 17 Februari 2024 - 15:09 WIB

Jokowi Imbau Jangan Teriak Kecurangan Bawa ke Bawaslu dan MK, Begini Reaksi BW …

Sabtu, 17 Februari 2024 - 12:01 WIB

Pernyataan Menohok TPN Ganjar-Mahfud: Tidak Perlu Pemilu Kalau Pelaksanaannya Semacam Ini

Kamis, 15 Februari 2024 - 20:25 WIB

Di TPS Tangsel Anies Menang, Suara Prabowo dari 86 Ditulis Jadi 866

Kamis, 15 Februari 2024 - 12:02 WIB

Pj Gubernur Jabar Antri Gunakan Hak Pilih di TPS 15: Warga Jabar Pemilih yang Cerdas

Kamis, 15 Februari 2024 - 11:53 WIB

Bey Machmudin Tinjau Pencoblosan ke Sejumlah TPS di Kota Bandung

Rabu, 14 Februari 2024 - 14:09 WIB

Pj. Wali Kota Cimahi dan Forkopimda Monitoring Persiapan Pemilu 2024, Pj Gubernur Jabar di TPS 29 Baros

Rabu, 14 Februari 2024 - 08:51 WIB

Timnas Anies-Muhaimin Sinyalir Ada Potensi Kecurangan Pemilu Melalui Penyalahgunaan Sistem IT KPU

Berita Terbaru