BIPOL.CO, JAKARTA – Gempa berkekuatan M 7,7 me gguncang Myanmar terjadi pada Jumat (28/3/2025) lalu. Gempa ini sangat dahsyat dan dampaknya sampai negara tetangga di Thailand. Akibat gempa dahsyat yang terjadi di Sagaing ini sejumlah bangunan tinggi di Bangkok Thailand runtuh, 10 menit setelah gempa. Padahal antara pusat gempa dengan Bangkok diperkirakan jaraknya 1.000 km.
Footage bangunan setinggi 33 lantai milik Kantor Pusat Auditor Umum Thailand di kawasan Chatuchak yang sedang dalam pembangunan ambruk dalam sekejap mata ini viral di mana-mana, dari media mainstream hingga media sosial.
“Mengapa Bangkok bisa rusak akibat gempa Myanmar? Fenomena ini disebut efek Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period) di mana gelombang gempa yang sumbernya jauh direspon tanah lunak. Tanah lunak tebal di Bangkok merespon gempa jauh membentuk resonansi mengancam gedung-gedung tinggi,” tulis Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono dalam akun X-nya @DaryonoBMKG pada Jumat (28/3/2025) lalu, ditulis Minggu (30/3/2025).
Daryono memberikan contoh serupa gempa Myanmar yang imbasnya sampai Thailand ini. Pada tahun 1985, terjadi gempa dahsyat di subduksi Cocos M 8,1 di Pantai Michoacan. Meski jarak pusat gempa ke Meksiko City sejauh 350 km, kerusakan hebat terjadi di Mexico City.
“Sebagian besar 9.500 korban meninggal terjadi di Mexico City yang dibangun dari rawa yang direklamasi. Dari berbagai penelitian, reclaimed land atau tanah yang direklamasi adalah unconsolidated material yang sangat berbahaya jika terjadi gempa kuat,” urainya.
Kemungkinan kedua, lanjut Daryono, rusaknya bangunan di Bangkok disebabkan oleh efek direktivitas, yaitu efek yang terjadi ketika energi gempa terfokus dalam satu arah.
“Efek ini dapat terjadi pada gempa bumi. Semakin tinggi direktivitas, semakin terkonsentrasi energi dalam satu arah,” imbuhnya.
Tanah Lunak hingga Struktur Bangunan
Analisis Daryono ini diperkuat oleh pakar teknik sipil Presiden Asosiasi Insinyur Struktural Thailand Prof Amorn Pimarnmas dan dosen senior Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Imperial College London (ICL) Dr Christian Málaga-Chuquitaype.
Prof Pimarnmas mengatakan tanah lunak Bangkok mungkin juga berperan dalam keruntuhan gedung karena dapat memperkuat gerakan tanah tiga atau empat kali lipat.
“Namun, ada asumsi lain seperti kualitas material (beton dan tulangan) dan beberapa ketidakteraturan dalam sistem struktur. Ini masih harus diselidiki secara rinci,” imbuh Pimarnmas.
Málaga-Chuquitaype juga menyoroti tanah lunak di Bangkok.
“Meskipun Bangkok jauh dari patahan aktif, tanahnya yang lunak memperkuat guncangan. Hal ini terutama memengaruhi gedung-gedung tinggi selama gempa bumi yang terjadi di tempat yang jauh,” ujar Málaga-Chuquitaype dilansir dari BBC, Sabtu (29/3/2025), ditulis Minggu (30/3/2025)
Setelah mempelajari video tersebut, Málaga-Chuquitaype mengatakan tampaknya proses konstruksi flat slab/pelat datar lebih disukai, meski flat slab tidak lagi direkomendasikan di daerah rawan gempa.
“Sistem ‘pelat datar’ adalah cara membangun gedung di mana lantai dibuat agar bertumpu langsung pada kolom, tanpa menggunakan balok,” jelasnya.
“Bayangkan sebuah meja yang hanya ditopang oleh kaki, tanpa penyangga horizontal tambahan di bawahnya. Meskipun desain ini memiliki keunggulan biaya dan arsitektur, kinerjanya buruk saat terjadi gempa, sering kali runtuh dengan cara yang rapuh dan tiba-tiba (hampir meledak),” jelas Málaga-Chuquitaype.
Gempa Besar-Dangkal dan Patahan Lurus Buat Gempa Bergetar Jauh
Pakar gempa BMKG Daryono mengatakan, gempa yang mengguncang Myanmar besar dan ganda berkekuatan M 7,6 dan M 7,2 dengan selisih 11 menit. Pusat gempa di jalur patahan/Sesar Sagaing yang membujur lurus dari Myanmar utara ke selatan sepanjang 1.200 km.
Sesar Sagaing pemicu gempa M7,7 yang merusak di Myanmar dan Thailand dikenal sangat aktif secara tektonik dan menjadi salah satu sumber gempa potensial di wilayah tersebut.
“Sesar Sagaing pemicu gempa M7,7 yang merusak di Myanmar dan Thailand memiliki mekanisme geser menganan (dextral strike-slip) dengan laju pergeseran cukup signifikan sekitar 18-22 mm per tahun,” tulis Daryono dalam akun X-nya @DaryonoBMKG.
Sesar Sagaing pemicu gempa M7,7 yang merusak di Myanmar dan Thailand ini, lanjutnya, merupakan bagian dari sistem tektonik yang membatasi Lempeng India dan Lempeng Sunda, sehingga memiliki aktivitas seismik yang sangat signifikan.
Riwayat gempa besar lebih dari M 6 hingga M 7 sudah 6 kali terjadi di Sesar Sagaing ini yakni tahun
1931: M 7,5
1946: M 7,3 dan M 7,7
1956: M 7,0
2012: M 6,8
2025: M 7,7
Menurut Badan Survei Geologi AS (US Geological Survey/USGS) gempa Myanmar M 7,7 ini berpusat di 10 km dari permukaan, terhitung sangat dangkal dengan magnitudo yang besar. Hal ini meningkatkan jumlah guncangan di permukaan.
USGS menyebut gempa tersebut menghasilkan lebih banyak energi daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.
“Sifat patahan yang lurus berarti gempa bumi dapat terjadi di area yang luas – dan semakin besar area patahan yang bergeser, semakin besar gempa bumi,” jelas Dr Rebecca Bell, Pembaca Tektonik dari Departemen Ilmu Kebumian dan Teknik, Fakultas Teknik Imperial College London, dilansir dari BBC.
Seperti Daryono, Bell mengatakan telah terjadi enam gempa bumi berkekuatan 7 atau lebih besar di wilayah ini dalam satu abad terakhir.
Sesar lurus ini juga berarti banyak energi dapat dibawa ke sepanjang patahan – yang membentang sejauh 1.200 km ke selatan menuju Thailand.
Bagaimana gempa bumi dirasakan di permukaan juga ditentukan oleh jenis tanah. Di tanah lunak – yang menjadi dasar pembangunan Bangkok – gelombang seismik (getaran bumi) melambat dan bertambah besar, sehingga ukurannya semakin besar. Jadi geologi Bangkok akan membuat getaran tanah semakin kuat.(*)