Mahasiswa Bereaksi Soal Isu “Geng Solo” Dalam Jabatan Strategis Polri

- Editor

Rabu, 25 Desember 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim Jabodetabek-Banten Akhmad Hidayat alias Daday (tengah) di Bogor, Jawa Barat. (ant)

Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim Jabodetabek-Banten Akhmad Hidayat alias Daday (tengah) di Bogor, Jawa Barat. (ant)

BOGOR.bipol.co – Himpunan Mahasiswa Muslim Jabodetabek-Banten bereaksi atas isu “Geng Solo” dalam jabatan strategis Polri yang diembuskan oleh Indonesia Police Watch (IPW), usai penunjukan Irjen Nana Sujana sebagai Kapolda Metro Jaya.

“Kami meyakini ada sebuah pertimbangan, kalkulasi yang tidak main-main dalam menempatkan posisi di tubuh Polri serta menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas,” ujar Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim Jabodetabek-Banten Akhmad Hidayat, di Bogor, Jawa Barat, Rabu 924/12).

Hidayat yang akrab disapa Daday itu mengaku tidak sepakat dengan pernyataan IPW bahwa penunjukan Irjen Nana Sujana saat itu merupakan Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi Kapolda Metro Jaya oleh Kapolri Jenderal Idham Aziz sebagai upaya Presiden Jokowi menonjolkan “Geng Solo” dalam jabatan strategis Polri.

“Sangat naif sebuah jabatan yang strategis dipertaruhkan dengan cara-cara yang tidak melihat track record di lapangan, itu tidak mungkin,” kata mantan Presiden Mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor itu pula.

Daday mengatakan, anggapan penunjukan Nana sebagai Kapolda Metro Jaya karena Nana pernah menjabat sebagai Kapolresta Solo semasa Jokowi menempati kursi Wali Kota Solo itu tidak berdasar.

“Jikalau Istana memprioritaskan Geng Solo dalam struktur pemerintahan, seharusnya FX Hadi Rudyatmo, Wakil Wali Kota Solo saat Jokowi menjabat Wali Kota Solo sudah menjadi menteri, ini faktanya FX Rudyatmo tidak menjadi menteri, artinya Pak Jokowi tidak berpikir ke arah situ,” ujarnya lagi.

Menurutnya, sebagai anak bangsa, mahasiswa akan berprasangka baik mengenai penunjukan Nana sebagai Kapolda Metro Jaya, yaitu mengutamakan integritas dibandingkan latar belakang jabatan yang pernah ditempati Nana.

“Mestinya yang perlu kita kritisi adalah bukan darimana ia pernah menjabat, tetapi bagaimana pejabat Polri tersebut bisa mengimplementasikan nilai-nilai Rastra Sewakotama dan berkolaborasi dengan masyarakat,” katanya pula.  (ant)

Editor     Deden .GP

Berita Terkait

Anggota Komisi B Anton Ahmad Fauji Setuju Batas Waktu Pemutihan PKB Diperpanjang
Anton Ahmad Fauji Harap Hari Jadi ke-384 Kinerja Bedas Jilid 2 Lebih Nyata
Ratusan Jenderal Tandatangani Pernyataan Sikap, Usul Pergantian Gibran dan Reshuffle Menteri Pro-Jokowi
Dukung Hasto, Massa Penuhi Pengadilan Tipikor Gunakan Rompi Oranye Bertuliskan “Hasto Tahanan Politik”
H. Eep Jamaludin Sukmana Manfaatkan Reses di Bulan Ramadhan untuk Bersilaturahmi dan Tampung Aspirasi
AHY Terpilih Kembali Sebagai Ketum, Puan Harap Partai Demokrat Terus Gotong Royong Bangun Bangsa
Secara Aklamasi AHY Terpilih Kembali Jadi Ketum Partai Demokrat: Berharap Bisa Bangkit
Ono Surono: Retreat Tidak Ada Aturan UU, Empat Kepala Daerah di Jabar Patuhi Perintah Megawati

Berita Terkait

Selasa, 22 April 2025 - 14:52 WIB

Anggota Komisi B Anton Ahmad Fauji Setuju Batas Waktu Pemutihan PKB Diperpanjang

Selasa, 22 April 2025 - 13:21 WIB

Anton Ahmad Fauji Harap Hari Jadi ke-384 Kinerja Bedas Jilid 2 Lebih Nyata

Jumat, 18 April 2025 - 14:16 WIB

Ratusan Jenderal Tandatangani Pernyataan Sikap, Usul Pergantian Gibran dan Reshuffle Menteri Pro-Jokowi

Sabtu, 22 Maret 2025 - 17:37 WIB

Dukung Hasto, Massa Penuhi Pengadilan Tipikor Gunakan Rompi Oranye Bertuliskan “Hasto Tahanan Politik”

Selasa, 11 Maret 2025 - 17:23 WIB

H. Eep Jamaludin Sukmana Manfaatkan Reses di Bulan Ramadhan untuk Bersilaturahmi dan Tampung Aspirasi

Berita Terbaru