Analis Politik: Daerah Rentan Konflik, Jangan Pilkada Langsung

- Editor

Senin, 18 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teguh Yowono.* ist.

Teguh Yowono.* ist.

SEMARANG, bipol.co – Analis politik dari Universitas Diponegoro, Teguh Yuwono, menyebut daerah yang berpotensi konflik berisiko tinggi dan berkepanjangan sebaiknya jangan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung.

“Seyogianya, pilkada di daerah yang berpotensi konflik besar melalui wakil rakyat,” kata Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin. di Semarang, Senin.

Menurut Teguh, banyak faktor kenapa pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Namun, faktor yang paling utama adalah high cost politics (politik biaya tinggi) dan high risk conflict (konflik berisiko tinggi) dan berkepanjangan.

“Apalagi, potensi konflik sudah ada. Konflik pilkada ini ibarat membakar rumput kering, mudah terbakar,” kata alumnus Flinders University Australia ini.

Dengan demikian, lanjut Teguh, ada daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat. Namun, ada pula yang tidak langsung atau melalui lembaga legislatif, atau menyesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

“Istilahnya ‘pilkada asimetris’,” kata Teguh ketika merespons wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD menjelang pelaksanaan pilkada tahun depan di 270 daerah yang terdiri atas sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Teguh yang pernah sebagai Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Undip menekankan, “Kalau potensi konflik besar, money politics (politik uang) besar, atau suap besar, jangan pilkada langsung.”

Ia lantas mencontohkan sejumlah daerah yang berpotensi konflik pada pelaksanaan pilkada langsung, seperti Papua dan Maluku, sebaiknya pemilihan kepala daerah lewat DPRD.

Menyinggung soal pemetaan daerah konflik, Teguh mengatakan bahwa Polri dan Kementerian Dalam Negeri punya data daerah mana saja yang berpotensi konflik. Jika dibutuhkan, data itu tinggal diperbarui.* ant

Editor: Hariyawan

 

Berita Terkait

Rakyat Banten Tidak Tinggal Diam: Soliditas Kultural dalam Melawan Kejahatan Agung Sedayu
Pajak untuk Hadiah Pribadi dari Luar Negeri, Apakah Ini Adil?
ASN, Haruskah Kita Percaya Lagi?
Sosok Pemimpin KBB ke Depan, Bagaimana Parpol?
Refleksi, Memasuki Abad ke-4 Kabupaten Bandung Mestilah Jujur
Tiga Tahun Menjadi Bupati: Sebuah Refleksi Diri
Dari SITUNG ke SIREKAP, Rekapitulasi Pemilu Berujung Penjara?!
Menakar Kinerja Pj Bupati Bandung Barat

Berita Terkait

Senin, 10 Maret 2025 - 12:46 WIB

Rakyat Banten Tidak Tinggal Diam: Soliditas Kultural dalam Melawan Kejahatan Agung Sedayu

Sabtu, 10 Agustus 2024 - 23:39 WIB

Pajak untuk Hadiah Pribadi dari Luar Negeri, Apakah Ini Adil?

Sabtu, 27 Juli 2024 - 15:13 WIB

ASN, Haruskah Kita Percaya Lagi?

Jumat, 28 Juni 2024 - 12:53 WIB

Sosok Pemimpin KBB ke Depan, Bagaimana Parpol?

Rabu, 1 Mei 2024 - 10:40 WIB

Refleksi, Memasuki Abad ke-4 Kabupaten Bandung Mestilah Jujur

Berita Terbaru