Oleh Edi Siswadi
DAMBAAN hidup harmoni adalah keinginan semua,tapi anehnya tebaran kebencian dan provokasi telah mewarnai kehidupan sehari hari,apa yang sebenarnya terjadi?ajaran ilahi bukan untuk membenci mahluk di bumi~islam itu rahmatan lil’alamin~rahmat bagi seluruh mahluk di bumi..penebar kasih sayang dan kedamian dan hidup harmoni menjadi tujuan..
Tidaklah kita belajar dari Ar- Rahmaan dan Ar-Rahiim,itulah nama-nama indah dan panggilan Rabb kita,Allah Swt.Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang,Allah menebarkan rahmat kepada seluruh mahluk di bumi dan atas rahmat itulah,semuanya mendapat rejekiNya untuk bisa menghirup udara segar menikmati air bersih bahkan bumi dihamparkan Allah untuk dinikmati manusia,Dia tanpa pilih kasi…
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kadar seorang muslim apakah itu ustad,dai bahkan khiai jika menebar permusuhan,maka ia adalah manusia biasa, bukan Nabi yang harus diatati tidak ada dosa bagi kita untuk tidak mentaatinya bahkan dari orang tua sekalipun ketika kita diperintah bermaksiat pada Allah kita wajib menolaknya.. jadi jangan menjadi pengikut panatik dan loyalitas buta..ustadz itu manusia biasa…bisa salah bahkan keliru.
Nabi Muhammad saw bersabda, Barang siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kumis dan jenggot ( lisan dan kedua bibir ) dan apa yang ada di antara pahanya (kemaluan), maka aku jamin baginya masuk surga.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan Bukhari).maknanya adalah jaga lisan kita..jangan mengeluarkan kata kata kotor,menebar fitnah atau hoaks,menyakiti orang lain bahkan membencinya.
Imam Syafi’i menegaskan; “sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan sesama dan sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa.” Pertanyaannya: adalah:Apakah da’i yang gemar menebar kebencian itu lebih hebat dan lebih alim dari Imam Syafi’i?
Kita perlu belajar dari kisah Nabi Musa ketika menghadapi Fir’aun. Dalam QS Thaha ayat 44 dinyatakan: “Maka bicaralah kamu berdua kepada (fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut,
Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā … “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya(Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat(sadar) atau takut”
Dalam ayat itu Allah memberikan arahan kepada Nabi Musa, agar tidak menggunakan kekerasan sebagai jalan dakwahnya. Justru cara lemah lembut yang harus ditempuh dengan harapan Fir’aun terenyuh, tertarik hatinya sehingga ia dapat menerima dakwah Nabi Musa dengan baik dan ikhlas.
Tebarkanlah kasih sayang dan jangan terhalang oleh perbedaan ras,suku,agama dan bangsa.. lihatlah persamaannya bahwa semua yang ada di alam semesta adalah mahluk Allah dan kita ditugaskan untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam-rahmatan lil alamin..
Bisa anda bayangkan alam semesta ini yang begitu luas dan tidak terjangkau akal fikir manusia cukup hanya dengan satu rahmat Allah yang diturunkan kepada jin,manusia,hewan ternak,dan serangga, dan dengan rahmat itu mereka saling mengasihi, menyayangi,dan demgannya hewan buas menyayangi anaknya..bayangkan itu baru satu(1) rahmat(Ar-Rahman=yang mengasihi dan Ar rahim=yang menyangi)..kita sudah merasakan betapa kenikmatan dunia membuat hidup kita terlena?
Bayangkan oleh kita betapa dahsyatnya kehidupan dan betapa indah dan nikmatnya kehidupan,dan nikmat tiada tara seandainya Allah menurunkan keseluruham rahmat itu?karena rahmat Allah ada 100(seratus) dan diturunkan di bumi hanya 1(satu) rahmat..sisanya sebesar 99(sembilan puluh sembilan) rahmat Nya..Allah akan turunkan untuk merahmati hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa,pada hari kiamat kelak..
inna raḥmatallāhi qarībum minal-muḥsinīn … Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik..!! **